Sabtu, 08 Maret 2014

Fanfic Super Junior: Yeppeun Namja Part 3

Judul                     : Yeppeun Namja
Genre                   : Drama, Romantic
Author                  : Lee Ara
Cast                      : Ayumi (Yumi), Park Jung Soo (Leeteuk), Kim Heechul, Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Aerin, Yesung, Jessica




Hari ini Yumi ada jadwal kuliah pagi.
“Kalian masih ingat, kan tugas paper yang minggu lalu saya sampaikan? Nah, tugas itu akan saya jelaskan kembali cara pengerjaannya. Saya akan membagi kalian ke dalam kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari dua orang yang saya tentukan sendiri setiap anggota kelompoknya. Nah, kalau begitu saya akan bacakan sekarang daftar kelompoknya!” terang Dosen Shin.
Dosen Shin mulai membacakan satu per satu daftar kelompok untuk tugas paper yang berjangka waktu pengerjaan satu bulan. Setiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi, sosialisasi dan wawancara ke beberapa tempat, misalnya seperti panti asuhan, panti jompo, dan lain-lain.
“Hei, kita sekelompok!” seru Yumi pada Donghae. Donghae sempat menoleh dan mengangguk kecil lantas kembali membuang pandangannya ke tempat lain. Gara-gara itu Yumi jadi mengerucutkan bibirnya karena merasa tidak dianggap oleh Donghae.
Saat jam kuliah berakhir. Kebetulan hari ini Yumi hanya ada satu mata kuliah.
Mwo? Kau satu kelompok dengan Donghae? Jinjji? Dia, kan personel Geng Prince! Apa kau tidak takut, huh?” seru Aerin tidak percaya, ditambah ekspresi Yumi menunjukkan kalau perasaannya biasa-biasa saja saat ini, tidak ada perasaan khawatir pada Donghae mengingat insiden beberapa waktu lalu.
“Eoh, aku sekelompok dengan Donghae. Molla, aku rasanya biasa saja. Maksudku menurutku Donghae itu berbeda dengan Heechul dan Kyuhyun. Aku yakin kalau Donghae itu lebih baik dari pada teman-temannya!” sahut Yumi.
“Hh, semoga saja perkataanmu itu benar. Eh, apa kau tahu dimana Yesung oppa? Apa dia menghubungimu?” tanya Aerin tiba-tiba saja menyerempet ke Yesung.
Molla. Bukankah kemarin kalian bertemu?” Yumi terlihat sedikit gugup. Yumi ingin menghindar dari perbincangan mengenai Yesung ini. Ia jadi merasa tidak enak kalau mengingat semalam Yesung baru saja menemuinya tanpa sepengatahuan Aerin, terlebih lagi pria itu datang untuk mengharapkan cinta lamanya lagi.
“Eoh. Tapi setelah pulang dari apartmenku dia seperti menghilang. Dia mematikan ponselnya. Aku takut. Kemarin kami sedikit bertengkar,” terang Aerin. Aerin juga berusaha menyembunyikan alasan pertengkarannya kemarin dengan Yesung adalah karena Yumi.
“Oh, begitu? Sayang sekali aku juga tidak tahu dimana dia. Aku sudah jarang sekali berkomunikasi dengan Yesung oppa. Bahkan baru kemarin itu aku bertemu lagi dengannya saat denganmu,” kilah Yumi menyembunyikan kenyataan bahwa semalam Yesung mendatanginya ke rumah kontrakannya.
Ne, arasseo...,” jawab Aerin seraya tertunduk lesu.
Bagaimana ini? Apa Yesung oppa tidak pulang setelah menemuiku semalam? Apa yang harus aku katakan pada Aerin? Ah, tidak! Kalau aku cerita pada Aerin nanti dia malah akan marah dan kecewa padaku. Hh, dimana Yesung oppa sekarang? Apa dia benar-benar akan meninggalkan Aerin? Oppa, jangan lakukan itu, aku mohon! -Yumi-
Yumi melihat Donghae dari kejauhan sedang berdiri bersandar di dinding koridor, ia asyik dengan earphone di telinganya seraya kepalanya bergoyang-goyang lembut menikmati irama musik yang langsung masuk ke telinganya.
“Eh, sepertinya itu Lee Donghae. Aku kesana dulu, ya!” seru Yumi pada Aerin. “Kau yakin mau kesana? Hh, ya sudah. Aku pulang duluan, ya! Aku ingin ke apartmen Yesung oppa,” kata Aerin yang sedang mencemaskan keadaan Yesung.
Ne!” sahut Yumi. Yumi lantas berlari kecil menuju Lee Donghae, “Ya! Jeogiyo!” sapa Yumi sok akrab di depan Donghae seraya tersenyum. Nafasnya masih sedikit ngos-ngosan karena habis berlari. Donghae sekilas melihat Yumi lalu menengok ke kanan dan ke kiri, ia lantas melepaskan earphone-nya, “Kau bicara padaku?” tanya Donghae.
“Tentu saja? Disini, kan hanya ada dirimu,” jawab Yumi. “Waeyo?” tanya Donghae kemudian. “Kapan kita akan mulai mendiskusikan paper kita?” tanya Yumi bersemangat sampai terbatuk-batuk akibat efek berlari juga.
Donghae sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan Yumi, “Kalau besok aku tidak bisa. Mungkin nanti sore aku bisa,” kata Donghae sedikit terkesan cuek. “Huh? Nanti sore? Aku... aku tidak bisa. Aku harus bekerja. Benar kau besok tidak bisa?” tanya Yumi setengah memaksa.
“Eoh. Aku harus ke Jepang untuk menemui ayahku,” jelas Donghae. Yumi terlihat berpikir. “Geurae. Aku usahakan untuk ijin bekerja. Lalu dimana kita bertemu?” Yumi akhirnya pasrah. “Di apartmenku saja. Nanti aku kirimkan alamatnya padamu,” kata Donghae. Akhirnya mereka sepakat untuk mendiskusikan paper itu di apartmen Lee Donghae.
Tanpa mereka sadari ada dua pasang kuping yang menguping pembicaraan mereka. Yumi pamit pergi meninggalkan Donghae. Dua orang yang sejak tadi mengamati Donghae dan Yumi akhirnya menunjukkan sosok mereka, “Donghae-ya! Apa yang kau bicarakan tadi dengan yeoja Indonesia itu? Apa kalian berkencan, huh?” selidik Kyuhyun berpura-pura curiga.
Huh? Eobseo!” jawab Donghae mencoba berkelit. Ia tidak ingin kedua sahabatnya itu membuat masalah lagi. “Jangan bohong! Aku sudah mendengarnya kalau kalian akan bekerja kelompok,” timpal Heechul, Si Pangeran cantik.
“Kalau sudah tahu kenapa masih bertanya padaku?” komentar Donghae kesal. “Haha! Kami hanya sedang mengujimu,” seru Kyuhyun seraya terkekeh. Kyuhyun mencoba menggoda Donghae dengan mengacak rambut Donghae
“Hei, serahkan gadis itu padaku!” ucap Heechul sengaja mendekatkan wajahnya pada Donghae. Ia mengeluarkan ekspresi wajah serius. Donghae hanya terdiam tanpa merespon sedikitpun, “Apa yang akan kau lakukan?” tanya Donghae pada akhirnya. Ia merasa khawatir pada apa yang akan dilakukan oleh sahabatnya itu.
“Lihat saja besok!” Heechul tersenyum menyeringai seraya menaikan satu alisnya seperti seorang tokoh antagonis.
_____
Seorang pria mengenakan topi dan jaket berwarna merah menunggu Yumi di seberang gerbang kampus, “Yumi-ssi!” seru Jung Soo saat melihat Yumi keluar dari gerbang kampusnya. Gadis itu menoleh ke arah namja itu lantas tersenyum. Tanpa menunggu lama ia berlari menghampiri kekasihnya itu, “Aku merindukan oppa!” seru Yumi setengah manja pada namja yang lebih tua tujuh tahun darinya itu.
Jung Soo tersenyum gemas melihat kekasihnya begitu manja padanya, “Baru ditinggal satu hari saja sudah seperti ini, apalagi kalau ditinggal bertahun-tahun,” kata Jung Soo seraya mencubit gemas pipi Yumi.
“Aw! Sakit, oppa!” seru Yumi seraya menepis lengan Jung Soo.
Dari kejauhan, Prince Gank ternyata mengamati Yumi dan Jung Soo.
“Siapa orang itu?” tanya Heechul. Heechul mengamati sepasang kekasih itu dengan tatapan yang seakan-akan menyelidik.
“Aku tidak tahu. Mungkin kau tahu?” kata Kyuhyun seraya menoleh pada Donghae.
“Aku? Hei, jangan mentang-mentang aku sekelas dengannya jadi aku harus tahu betul tentang yeoja itu, huh! Aku tidak tahu siapa namja yang bersamanya itu!” timpal Donghae yang merasa sedikit kesal karena selalu saja di sangkut pautkan dengan Yumi sejak Heechul mengetahui kalau mereka berdua satu kelas.

***

Hari ini aku harus ijin bekerja setengah hari saja pada oppa. Ini semua karena aku sudah berjanji pada Donghae. Kami akan mulai mendiskusikan tugas paper yang diberikan oleh Tuan Shin. Itu artinya selama sebulan ke depan aku akan sering berkomunikasi dengan Donghae. Jung Soo oppa sebenarnya sempat merasa khawatir dan cemburu setelah mendengarnya, tapi syukurlah aku bisa memberi pengertian padanya.
Pukul empat sore aku sudah meninggalkan kafenya Jung Soo oppa. Aku pergi ke alamat yang diberikan oleh Donghae padaku sebelumnya. Jung Soo oppa bersikeras untuk mengantarkanku kesana, terpaksa aku menuruti maunya. Ya, setidaknya dengan begitu dia bisa lebih tenang. Usai saling mengucapkan kata-kata perpisahan aku langsung memasuki gedung apartmen itu, tempat dimana Donghae tinggal. -Yumi-
Yumi menekan bel di pintu apartmen itu. Tak lama seseorang di dalam membukakan pintu untuknya. Terlihat sosok pria tampan berambut cokelat dengan senyuman yang khas. Lee Donghae. Pria itu mempersilahkan Yumi masuk. Yumi dan Donghae duduk di ruang tamu. Ukuran ruang tamunya cukup besar dengan penataan tata letak barang yang rapi. Terlihat jelas dari sang pemilik yang juga selalu terlihat rapi.
“Oh, aku lupa menawarkanmu minuman. Aku hanya memiliki soft drink. Sebentar, ya aku ambilkan!” tawar Donghae. Pria bertubuh kekar itu langsung menuju ke dapurnya mendekati kulkas dan kembali dengan menggenggam dua kaleng minuman.
Gomawo,” ucap Yumi saat Donghae memberikan sekaleng minuman padanya. Yumi mengikuti Donghae membuka tutup kaleng minuman itu dan meneguknya perlahan. “Kau tinggal sendiri disini? Lalu orang tuamu?” tanya Yumi yang melihat kalau di apartmen itu hanya ada Donghae dan dirinya saja.
“Orang tuaku di Jepang, mereka mengurus usaha perhotelan keluarga kami disana,” terang Donghae. “Wah, kau memang anak orang kaya, ya! Beruntung sekali!” seru Yumi seraya memandang kagum pada sosok Lee Donghae.
“Aku tidak menduga setelah malam itu kita pertama kali mengobrol, sekarang kita malah dipasangkan oleh Tuan Shin. Apa kau tidak merasa takut padaku? Aku, kan temannya Kim Heechul,” ujar Donghae terlihat serius menatap wajah Yumi.
“Huh? Ya... sebenarnya aku sedikit merasa takut. Tapi aku tanamkan di pikiranku kalau Lee Donghae dan Kim Heechul adalah orang yang berbeda. Setidaknya kau tidak lebih menyeramkan dari dia,” jawab Yumi.
Donghae terlihat tersenyum bahkan sedikit terkekeh mendengar jawaban Yumi, “Jadi apa rencanamu dengan paper kita?” Donghae akhirnya mulai menyinggung tugas yang harus mereka kerjakan hari ini.
“Um..., bagaimana kalau kita mendatangi panti asuhan saja? Aku rasa anak-anak lebih mudah untuk didekati. Selain itu, aku juga sangat menyukai anak-anak,” seru Yumi. “Hm..., boleh saja. Aku juga suka anak-anak,” sambung Donghae.
Yumi langsung terlihat sumringah, “Apa kau ada referensi panti asuhan mana yang harus kita datangi? Hehe, aku masih belum begitu hapal tempat-tempat disini,” kata Yumi yang seorang pendatang dari Indonesia.
“Hm, aku pernah dengar panti asuhan Lovely Day, tempatnya dekat dengan rumah Kyuhyun. Bagaimana kalau disana saja? Kau tidak takut, kan?” kata Donghae. Yumi sedikit merasa tersinggung, “Hh, apa-apaan kau ini? Selalu saja menanyakan aku takut atau tidak!” protes Yumi kesal.
“Baiklah. Baiklah. Kau memang yeoja pemberani,” kata Donghae seraya terkekeh. “Kalau begitu sekarang kita buat bab pendahuluannya saja, bagaimana?” ajak Yumi penuh semangat. Gadis ini memang tidak pernah menunda-nunda pekerjaan. Selama bisa dikerjakan hari ini, maka ia akan langsung mengerjakannya.
“Huh? Sudah mau membuatnya sekarang?” Donghae sepertinya terkejut dengan semangat Yumi. “Maja! Lebih cepat lebih baik, kan? Haja!” seru Yumi bersemangat. Akhirnya Donghae mengeluarkan notebooknya untuk mengerjakan bab awal tugas paper mereka itu. Selama mereka mengerjakan pendahuluan tugas mereka, Donghae terlihat tidak tenang.
Berkali-kali Yumi memergoki Donghae melihat jam, “Ada apa?” tanya Yumi penasaran. Rupanya Yumi bisa merasakan kalau Donghae tidaklah sesemangat dirinya hari ini. Yumi bisa melihat kalau Donghae seperti mencemaskan sesuatu.
Donghae akhirnya buka suara, “Sebenarnya Kyuhyun bilang dia akan datang hari ini. Aku tidak ingin kalian bertemu disini,” jelas Donghae. “Jeongmalyo? Ya, sudah. Kalau begitu aku segera pulang saja. Ini juga sudah hampir selesai, kan! Aku rasa kau bisa meneruskannya. Tinggal sedikit lagi,” kata Yumi.
“Serahkan saja padaku!” seru Donghae antusias. “Aigo! Aku lupa tidak membawa flash disc,” seru Yumi seraya mengacak-ngacak isi tasnya. Rupanya ia kelupaan membawa flash disc. “Gwaenchanha. Di notebookku juga aman. Lagi pula aku tidak suka sembarang flash disc menyentuh notebook pribadiku,” jelas Donghae.
“Ish! Kau ini berlebihan sekali. Ya, sudah kalau memang aman. Ganda!” Yumi pamit dan segera meninggalkan apartmen Donghae. Saat hendak keluar dari gedung apartmen itu, tanpa sengaja ia berpapasan jalan dengan Kyuhyun, hanya saja Yumi tidak menyadarinya karena ia terus menunduk memainkan ponselnya.

***

Aerin mendatangi apartmen Yesung. Sesampainya di depan apartmen itu, sama sekali tidak ada yang membukakan pintu padahal Aerin sudah berkali-kali menekan belnya. Akhirnya terpaksa Aerin memaksa masuk ke apartmen itu karena sebenarnya ia hapal kode sandi pintu apartmen Yesung.
Aerin mencari Yesung di dalam apartmen itu, tapi namja bermata sipit itu tidak ada disana. Aerin memasuki kamar Yesung. Ia merasa sedikit frustasi dengan menghilangnya Yesung. Berkali-kali Aerin menghela nafas seolah ia sangat putus asa saat ini. Mata Aerin tiba-tiba saja menangkap penampakan selembar kertas di atas tempat tidur Yesung. Karena penasaran ia membaca isi dari kertas itu.
Aerin, aku tahu kau akan datang ke apartmenku. Maafkan aku. Selama ini aku telah membohongimu. Aku tidak kuat lagi menyimpan semua ini. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri dengan mengatakan aku mencintaimu. Ya, kau benar. Aku memang masih sangat mencintai Ay. Hatiku sangat sakit saat Ay memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami demi dirimu, sahabatnya. Maafkan aku karena mengatakan ini. Tolong jangan membenci Ay. Aku harap kau bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari pada aku. Maafkan aku, Aerin. Yesung.
Betapa remuknya hati Aerin setelah membaca surat yang ditulis oleh Yesung. Tanpa sadar air mata mengalir deras dari pelupuk mata gadis cantik itu. Perasaan marah, kecewa, sedih dan patah hati benar-benar telah menguasai Aerin saat ini. Tubuh Aerin bergetar hebat menahan gejolak emosi dari dalam dirinya.
Aku tidak pernah menduga akan seperti ini. Yesung memang tidak pernah mencintai aku. Aku sangat mengetahui itu lebih dari siapapun. Tapi aku tidak menyangka kalau ini masih soal Ay. Saat ini aku benar-benar merasa kesal dan marah pada Ay yang ternyata telah merencanakan semuanya. Kenapa dia harus melakukan itu? Kalau saja Ay tidak pernah memutuskan Yesung dan berkorban perasaan demi aku tentunya aku tidak akan sesakit saat ini, aku tidak akan merasa serendah ini. Perempuan itu telah membuat aku seakan mengemis-ngemis hati Yesung untukku! Dia sudah mencoreng harga diriku. Tidak bisa kumaafkan, tidak akan. -Aerin-

***

Di kediaman Kim Heechul. Seorang namja muda berambut gondrong yang dicat merah tengah sibuk berkutat dengan gadgetnya. Sesekali ia menyesap minuman dan kembali diletakkannya gelas mahal itu di atas meja. Ya, namja itu adalah Kim Heechul. Namja yang satu ini berkulit putih bersih dan berwajah cantik, bahkan ia lebih cantik dari pada seorang wanita. Heechul benar-benar seorang pangeran. Namun sayang sekali, parasnya yang indah itu tidak seindah sifatnya yang sedikit keras dan egois.
Seekor kucing berbulu abu-abu datang menghampirinya seraya mengusap-usapkan kepalanya ke kaki Heechul. Kucing itu adalah Heebum, peliharaannya Heechul. Heebum lah yang selalu menjadi teman setia Heechul selain Kyuhyun dan Donghae. Bedanya Kyuhyun dan Donghae adalah sahabat setia Heechul saat di kampus dan diluar, sedangkan Heebum sahabat Heechul ketika di rumah.
Rumah tempat kediaman Kim Heechul sangatlah besar. Ada beberapa pelayan yang bertugas melayani segala kebutuhan sang pemilik rumah, tapi entah kenapa jika dilihat dari dekat rumah ini memiliki aura yang jauh dari kebahagiaan dan rasa nyaman.
Orang tua Kim Heechul selalu bepergian ke luar negeri dan meninggalkan putranya itu bersama dengan para pelayan di rumah mereka. Oleh karena itu, meskipun hidupnya serba berkecukupan tetapi Heechul merasa tidak pernah puas. Ia seolah mencari sesuatu yang lain yang belum pernah ia dapatkan selama menjadi Tuan Muda Kim.
“Tuan muda, Tuan Shin sudah tiba dan sekarang ia sedang menunggu tuan di ruang tamu,” kata salah seorang pelayan wanita. “Bagus. Suruh dia menunggu, aku akan segera kesana menemuinya. Dan jangan lupa siapkan minuman untuk kami,” perintah Heechul.
“Baik, Tuan muda!”
Setelah Tuan Shin menunggu Heechul selama hampir 30 menit, akhirnya Prince Heechul menunjukkan sosoknya. “Tuan Shin Donghee, maaf sudah menunggu lama,” kata Heechul seraya duduk di sofa yang berhadapan dengan sofa yang diduduki oleh Tuan Shin.
“Ah, tidak apa-apa. Kalau boleh tahu, kenapa anda memanggil saya kemari?” kata Tuan Shin takut-takut. “Tuan Shin, bolehkah aku meminta bantuanmu?” tanya Heechul memulai pembicaraan sesungguhnya dengan sebuah seringai tajam. Heechul tampak sedikit menakutkan.
“Apa yang bisa saya bantu? Saya akan melakukannya untuk anda, Tuan muda!” seru Tuan Shin seraya mengelap keringat dinginnya. Padahal di ruangan itu cukup dingin karena AC yang menyala, tapi Tuan Shin justru berkeringat.
“Aku ingin pindah ke kelasmu. Kau tahu, kan mahasiswi yang bernama Yumi itu? Aku sedang mengincar dia,” Heechul berterus-terang.

Sementara itu, di lain tempat.
Kediaman Park Jung Soo. Kakaknya Jung Soo tiba-tiba menelpon Yumi mengabarkan kalau Jung Soo tiba-tiba saja demam. Karena sangat khawatir pada keadaan namja itu, Yumi memutuskan langsung mendatangi rumah Jung Soo sepulangnya ia dari apartmen Donghae.
“Oppa, bukankah tadi oppa baik-baik saja? Kenapa sekarang bisa demam begini?” Yumi terlihat khawatir. Ia langsung mengambil posisi duduk di sebelah Jung Soo yang sedang berbaring.
Jung Soo yang dikhawatirkan malah tersenyum lembut memamerkan dimple smile-nya. Padahal terlihat jelas kalau ia sedang sakit, tapi ia masih bisa tersenyum. Keringat dinginnya juga banyak sekali sampai membasahi wajah dan pakaian yang dikenakannya.
“Hei, kenapa malah tersenyum? Dia bertanya padamu, apa kau tidak mendengarnya?” omel In Young, kakak perempuan Jung Soo. Untung saja ada In Young yang menemukan Jung Soo dalam keadaan menggigil, kalau tidak Jung Soo pasti tidak akan mau mengabari Yumi dan menahan sakitnya sendiri.
“Oppa, kenapa senang sekali membuatku khawatir, sih?” protes Yumi mencubit pelan lengan Jung Soo.
“Yumi, tolong kau jaga Jung Soo, ya. Aku harus segera pulang. Aku tadi kemari membawakan dia makanan kesukaannya. Tolong suapi dia. Aku yakin kalau kau yang menyuapi dia tidak akan menolak,” pinta In Young.
“Ne, eonni. Aku akan merawat oppa,” jawab Yumi dengan pasti.
“Nuna mau kemana?” tanya Jung Soo seolah tidak ingin ditinggalkan oleh In Young.
“Tentu saja mau kembali pada suami dan anakku! Kau jangan bandel, menurutlah pada Yumi, dan segeralah sembuh! Aku tidak akan mengatakan pada ibu kalau kau sakit. Kalau ibu sampai tahu kau sakit pasti ibu akan sangat khawatir,” omel In Young yang sebenarnya sangat mengkhawatirkan adik tersayangnya itu.
Ne, nuna. Arasseo!” jawab Jung Soo. In Young akhirnya pulang ke rumahnya sendiri. Dan sekarang hanya tinggal Jung Soo yang terbaring dengan tubuh menggigil ditemani oleh Yumi yang setia merawatnya.
“Oppa, makan, ya!” Yumi menyodorkan makanan yang dibawakan oleh In Young. Ia hendak menyuapi Jung Soo dengan makanan yang dibawakan oleh In Young tadi. Jung Soo mengangguk tanda ia mau disuapi. Tiba-tiba gadis itu terkekeh sendiri.
“Kenapa kau tertawa?” tanya Jung Soo tidak mengerti sekaligus merasa aneh. “Aku hanya merasa ini lucu. Oppa seperti anak kecil saja. Aku merasa sedang menyuapi anakku,” kata Yumi seraya tertawa.
Mwo? Andwae! Aku tidak mau menjadi anakmu! Aku ini, kan suamimu!” timpal Jung Soo lantas ia pun ikut terkekeh. Setelah bersenda gurau bersama, Yumi masih menyuapi Jung Soo hingga menghabiskan semua makanan itu. Yumi juga memberikan obat untuk diminum oleh Jung Soo. “Oppa...,” panggil Yumi dengan lembut.
“Hum?” jawab Jung Soo. “Oppa mungkin kecapean. Aku ingin merawat oppa. Apa boleh aku menemani oppa malam ini?” pinta Yumi seraya mengusap-usap punggung tangan Jung Soo. “Kenapa bertanya segala? Tentu saja aku senang kalau kau mau menemaniku!” jawab Jung Soo. Tubuh Jung Soo tiba-tiba menggigil lagi.
Yumi dengan cekatan langsung menyelimuti tubuh Jung Soo dengan selimut, tapi rupanya selimut itu terlalu tipis dan belum cukup untuk menghangatkan tubuh kekar seorang Park Jung Soo, “Ini dingin sekali...,” suara Jung Soo terdengar tidak jelas karena ia sekarang ini benar-benar menggigil kedinginan.
Yumi mulai sedikit panik saat ini. Ia lantas naik ke tempat tidur itu dan berbaring disebelah Jung Soo. Ia lantas memposisikan tubuh Jung Soo menghadap dirinya lalu memeluk tubuh Jung Soo dalam posisi berbaring. Ajaibnya, perlahan-lahan kondisi Jung Soo mulai baikan.
“Bagaimana sekarang, hum?” tanya Yumi ingin memastikan. “Sudah lebih baik,” jawab Jung Soo seraya tersenyum lembut. “Syukurlah,” ucap Yumi lega. Yumi hendak melepaskan pelukannya tapi malah ditahan oleh Jung Soo.
Jung Soo menahan tubuh Yumi, “Tolong jangan lepaskan! Biarkan saja seperti ini,” pinta Jung Soo. Ia masih ingin berada dalam pelukan Yumi. Ia masih ingin merasakan nyamannya pelukan orang yang dicintainya. Yumi tersenyum mengerti. Akhirnya mereka berdua tertidur sampai esok pagi.
Esok paginya. Yumi terbangun dari posisi tidurnya yang bersandar di dada Jung Soo dan masih memeluk namja itu. Ia teringat kalau Jung Soo semalam demam, dan sekarang ia belum membuka matanya. Yumi memeriksa kening namja itu, “Syukurlah, panasnya sudah turun,” gumam Yumi.
Jung Soo akhirnya terbangun saat lengan Yumi menyentuh keningnya, “Gomawo,” ucapnya. Itulah kata-kata pertama yang ia ucapkan saat terbangun pagi ini. “Cheonmaneyo,” jawab Yumi seraya tersenyum lembut. Yumi merubah posisinya menjadi duduk.
Jung Soo bangkit dari tidurnya. Sekarang ia dan Yumi sama-sama duduk di tempat tidur itu. “Boleh aku meminta sesuatu padamu?” kata Jung Soo. “Mwo?” tanya Yumi. “Kau sudah berhasil menyembuhkanku semalam. Cara yang kau pakai semalam itu... tolong jangan lakukan pada orang lain. Cukup padaku saja. Kau mau berjanji, kan?” pinta Jung Soo membuat Yumi menahan tawanya dan juga sukses membuat Yumi tersipu.
Yumi menggangguk malu, “Iya, aku janji!” ucap Yumi seraya tersipu malu. Jung Soo merasa gemas melihat kekasihnya itu tengah tersipu karena dirinya. Ia akhirnya menarik tubuh Yumi dalam dekapannya, “Aku ingin memilikimu selamanya,” ucap Jung Soo lembut. Yumi balas memeluk tubuh Jung Soo dengan erat, seolah ia takut akan kehilangan pria itu.

***

Tuan Shin memasuki ruangan kelas. Satu per satu mahasiswa yang tadinya asik mengobrol sekarang ini telah duduk tertib. “Saya ingin menyampaikan perubahan anggota kelompok yang kemarin saya umumkan. Berhubung ada mahasiswa yang pindah ke kelas kita ini, jadi akan ada perubahan, tepatnya untuk dua kelompok saja. Silahkan masuk, Heechul-ssi!” seru Tuan Shin.
Suasana kelas mendadak riuh. Mereka menyampaikan protes, tapi keributan itu hilang seiring dengan terdengarnya suara langkah kaki Kim Heechul saat memasuki ruangan kelas itu. Para gadis kecuali Yumi sampai menganga mulutnya karena melihat takjub ketampanan Kim Heechul. Pria itu benar-benar tampan setampan pangeran yang ada dalam cerita dongeng.
“Nah, pangeran kampus kita ini mulai hari ini akan menjadi bagian dari kelas kita!” terang Tuan Shin memperjelas alasan kehadiran Kim Heechul di kelas ini.
“Aku rasa aku tidak perlu memperkenalkan diriku lagi,” kata Heechul dengan gaya arogannya.
“Lee Donghae, kau dipindahkan ke kelompoknya Lee Hyukjae. Dan Tuan muda Kim Heechul saya tugaskan satu kelompok dengan Ayumi,” perintah Tuan Shin.
Mwo? Tapi, kan kami sudah mulai mengerjakan paper kami, pak?” protes Yumi. Sebaliknya berbeda dengan Yumi, Donghae justru terlihat hanya menundukkan kepalanya seolah pasrah pada keputusan Tuan Shin. Donghae memang sudah tahu sejak awal kalau Heechul akan melakukan ini.
“Tidak ada bantahan! Sekarang kalian diperintahkan untuk duduk dengan kelompok kalian masing-masing!” sahut Tuan Shin seraya mengetukkan spidol pada white board berkali-kali.
Yumi menghela nafasnya karena merasa kecewa pada keputusan Tuan Shin yang begitu tiba-tiba. Yumi berharap ini hanyalah mimpi buruknya. Harus satu kelompok dengan Kim Heechul selama satu bulan ini, tentunya akan sangat menyulitkan pergerakan Yumi di kampus ini.
Heechul melenggang santai mendekati tempat duduk Yumi. Ia lantas duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Yumi. Terlihat jelas seringai senyum kemenangan dari bibir sensual namja itu. “Annyeong! Apa kau merindukanku?” bisik Heechul mencoba menggoda Yumi dengan senyum liciknya.
“Cih! Terima kasih. Kau membuatku merasa sangat tersanjung karena mengikutiku sampai kesini. Kau sampai-sampai harus pindah kelas segala agar bisa bertemu denganku terus. Begitu besarnyakah ketertarikanmu itu padaku?” kata Yumi dengan penuh percaya diri.
Tidak disangka, Heechul justru malah menarik leher Yumi dan merangkulnya dengan satu tangannya. Ia lantas membisikkan sesuatu, “Aku akan menunjukkan padamu siapa yang sedang kau hadapi sekarang,” bisik Heechul lantas melepaskan lengannya dari gadis itu. Yumi mendengus kesal.
Selepas mata kuliah Dosen Shin Donghee.
Ya, Lee Donghae-ssi! Kenapa kau diam saja tadi? Aku tidak terima kalau harus satu kelompok dengan Kim Heechul! Aku lebih suka kalau kau saja yang jadi partnerku,” gerutu Yumi pada Donghae.  Donghae menghela nafas, “Aku, kan sudah bilang sebelumnya kalau Heechul masih akan bertindak. Aku juga tidak tahu kalau dia akan melakukan ini. Kau bersabar saja. Mau tidak mau terimalah kenyataan kalian satu kelompok sekarang,” ujar Donghae.
“Oho! Kalian membicarakanku?” seru Heechul melenggang santai menghampiri Yumi dan Donghae. Yumi tampaknya muak pada namja bergelar Prince itu. Heechul menghampiri Yumi, “Hari ini ikutlah ke rumahku!” kata Heechul seraya menarik paksa lengan Yumi. “Hei, lepaskan aku! Aku tidak mau ikut denganmu! Aku harus bekerja,” tolak Yumi yang meronta minta dilepaskan.
“Lepaskan dia, Heenim!” sahut Donghae mencoba menghalangi Heechul. “Jangan halangi aku!” bentak Heechul pada Donghae. Heechul mendorong Donghae agar menjauh. Donghae menggeram kesal. Ia merasa emosi pada Heechul, tapi Kyuhyun tiba-tiba saja datang menahannya, “Hajima! Kalau kau seperti ini terus Heenim justru akan lebih menyiksa dia,” jelas Kyuhyun.
Donghae akhirnya menuruti perkataan Kyuhyun, “Apa yang akan dia lakukan?” tanya Donghae pada Kyuhyun. “Nado molla. Pastinya dia akan sedikit bersenang-senang dengan yeoja itu. Tenang saja, kau tahu sifat Heenim, dia tidak akan menyakiti yeoja itu. Sekarang ini dia hanya sedang merasa tertantang karena mendapat lawan seperti yeoja Indonesia itu,” terang Kyuhyun.

***

Buat yang baca, minta komentarnya, ya! Jangan jadi pembaca bisu. hehehe =D
Cerita ini murni hasil kretifitas author yang juga sebagian diambil dari adegan di mimpi Author. Hihii! Maaf kalau ada alur yang rada gak jelas, typo, dan nama-nama yang gak disukain. Intinya.. niat Author cuma mau nyalurin hobi menulis plus menghibur orang-orang yang senang membaca fanfic =)
Gomawo chingu! =)


Fanfic Super Junior: Yeppeun Namja Part 2

Judul                     : Yeppeun Namja
Genre                   : Drama, Romantic
Author                  : Lee Ara
Cast                      : Ayumi (Yumi), Park Jung Soo (Leeteuk), Kim Heechul, Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Aerin, Yesung, Jessica

Yumi baru saja sampai di depan Kafenya Jung Soo. Ia diantar oleh Yesung dan Aerin setelah kejadian penyiraman oleh Geng Prince saat di kampus tadi.
“Terima kasih, Aerin. Terima kasih, Yesung oppa!” ucap Yumi seraya membungkukkan badannya 900. Begitulah cara yang dilakukan mereka, warga Korea ketika memberi salam atau berterima kasih pada seseorang. Yumi sudah mulai terbiasa pada budaya di negeri ginseng ini.
“Ah, tidak usah sungkan!” jawab Yesung seraya tersenyum lembut. Kemudian Yesung melajukan kembali mobilnya dengan membawa serta Aerin pergi meninggalkan Yumi.
Yumi masuk ke dalam kafe itu dan langsung menuju ruang ganti untuk berganti pakaian. Cuaca yang dingin akan membuat ia terkena flu kalau berlama-lama menggunakan pakaian yang basah.
Omo, waegeuraeyo? Kenapa bisa sampai basah begini? Siapa yang melakukan ini padamu, Yumi-ssi?” Jung Soo tiba-tiba datang menyambut Yumi dengan banyak pertanyaan. Ia melihat pakaian Yumi tergeletak dalam keadaan basah.
Na gwaenchanha. Ini hanya kecelakaan kecil. Seseorang tidak sengaja menyiramkan air padaku,” jelas Yumi seraya tersenyum. Ia tidak ingin Jung Soo yang baik hati itu terlalu mengkhawatirkan dirinya.
Kecelakaan kecil? Tidak sengaja? Apanya yang tidak sengaja? Orang sombong itu memang sengaja melakukan ini padaku! Jung Soo oppa tidak perlu tahu mengenai hal ini. Aku takut Jung Soo oppa ingin ikut turun tangan. Aku tidak mau oppa berurusan dengan Geng Prince itu. Aku tidak mau dibilang tukang ngadu. -Yumi-
“Ah, bodoh sekali orang itu!” Jung Soo menggeram kesal. Saking kesalnya ia terlihat bisa memakan siapa saja yang lewat di dekatnya.
“Kenapa oppa yang kesal? Aku saja tidak apa-apa,” Yumi terkekeh melihat tingkah kekasihnya itu. Yumi berpikir Jung Soo memang sosok pelindung yang baik bagi dirinya. Sejak yumi melepaskan kekasihnya yang dulu, saat ini hanya ada Jung Soo yang mengisi hati Yumi.
“Aku mengkhawatirkanmu. Kau itu sekarang sudah menjadi tanggung jawabku,” ujar Jung Soo. Jung Soo tidak hanya berperan sebagai kekasih, tapi juga seperti seorang ayah yang selalu ingin menjaga anaknya.
Gomawoyo, oppa...,” Yumi menghambur memeluk tubuh kekar Jung Soo. Ia merasa sangat terharu atas rasa peduli Jung Soo yang begitu besar kepadanya. Dengan memiliki Jung Soo, Yumi merasa hidupnya kini telah lengkap kembali.
Hatiku rasanya sangat nyaman setiap memeluk oppa seperti ini. Aku ingin selama mungkin memeluk oppa. Tidak ada satu pun yang bisa menggantikan tempat oppa di hatiku. Aku sangat beruntung bisa bertemu dengan namja sebaik dirimu. Aku sangat berharap bisa menjadi pengantinmu, oppa. -Yumi-
“Aku ingin memeluk oppa lebih lama lagi,” ucap Yumi lirih seraya menyandarkan wajahnya di dada Jung Soo. Tubuh Yumi terlihat mungil dalam rengkuhan tubuh kekar Jung Soo. “Jagiya, apa kau mau berjanji hanya mencintai oppa seorang?” pinta Jung Soo seraya mengusap-usap lembut punggung gadis yang dicintainya itu.
“Tentu saja. Hanya Jung Soo oppa yang ada di hatiku. Sampai kapanpun aku akan tetap mencintai oppa,” ucap Yumi berjanji. Jung Soo tersenyum bahagia hingga menunjukkan lesung pipinya yang semakin membuatnya terlihat tampan.

***

Di ruang tamu apartmen Aerin.
“Oppa, hari ini Yumi dibully oleh Geng Prince,” kata Aerin pada Yesung dengan nada datar. Sejak tadi ia merasa Yesung mengabaikan dirinya sehingga membuat Aerin terpaksa melampiaskan jenuhnya pada ponselnya.
Jeongmalyo? Apa yang dia lakukan sampai bisa dikerjai oleh mereka?” tanya Yesung antusias. Kali ini mata Yesung tidak lagi tertuju pada televisi di depannya. Pria tampan berkaca mata itu tertarik mendengar cerita Aerin soal Yumi, mantan kekasihnya.
Wae? Apa oppa masih peduli padanya?”  tanya Aerin curiga. Ia mendengus kesal. Setelah mendengar Aerin menyebut nama Ayumi rupanya Yesung baru bisa tertarik menoleh padanya. Ini membuat Aerin cemburu.
Mueosseulyo? Kau sendiri yang mulai membicarakan dia. Kenapa malah nyolot padaku?” timpal Yesung yang tidak terima disalahkan begitu. “Aku kira oppa tidak akan seantusias itu mendengar cerita tentang dia! Aku tahu, oppa masih mencintai dia, kan?” tuduh Aerin yang masih saja cemburu pada Yesung. Aerin sampai bangkit dari duduknya karena kesalnya ia pada Yesung.
“Bicara apa kau ini? Hubunganku dengannya sudah sangat lama berakhir. Dan sekarang kau yang menjadi pacarku. Mana mungkin aku masih memikirkan dia?!” Yesung membela diri. Ia balik ngotot dan ikut bangkit dari sofa yang sejak tadi didudukinya.
“Bagaimanapun juga kalian pernah tinggal bersama. Aku tidak percaya oppa semudah itu melupakan dia,” tuduh Aerin dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal.
“Aku dan dia tinggal bersama karena dia tidak punya siapa-siapa disini. Saat itu hanya aku yang dia kenal. Kau sendiri juga tahu itu, kan? Sudahlah, aku tidak suka melihatmu yang selalu cemburu tanpa alasan. Yang sekarang ada di hatiku itu hanya kau, Aerin!” jelas Yesung mencoba meredam emosi Aerin.
Jinjja?” Aerin merasa sedikit ragu, tapi ia juga jadi merasa tidak enak pada namja chingu-nya itu. “Mianhae, oppa!” Aerin menghambur ke pelukan Yesung. Ia mencoba menetralkan perasaan cemburunya. Meskipun Yesung sekarang telah menjadi kekasihnya, tapi entah kenapa ia merasa Yesung masih mencintai Yumi meskipun pria itu selalu saja menutupinya.
“Dia itu sahabatmu. Tidak seharusnya kau mencemburui dia. Toh, aku  juga sudah menjadi milikmu sekarang,” ucap Yesung. Ia lantas menciumi pucuk kepala kekasihnya itu. Aerin mengangguk mengerti.

***

Yumi hari ini tidak kebagian tugas sampai jamnya kafe tutup, jadi ia bisa pulang lebih awal. Saat ini masih pukul sembilan malam. Yumi berjalan sampai ke halte. Siang tadi Jung Soo pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan, jadi ia tidak bisa mengantar Yumi pulang.
Saat di halte, Yumi bertemu dengan seorang ibu yang habis dijambret di halte itu. Kebetulan suasana di halte itu memang sedang sepi. Yumi ingin membantu ibu itu, tapi ibu itu terus saja menangis. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan halte itu. Si pengemudi membuka kaca jendela mobilnya.
Museun iriya, Yumi-ssi?” tanya orang itu yang sangat tidak asing lagi wajahnya bagi Yumi. Rupanya orang itu juga mengenal Yumi, buktinya dia memanggil Ayumi dengan sebutan ‘Yumi’. “Lee Donghae? Oh, ini... ibu ini korban jambret. Aku ingin membantunya, tapi dia menangis terus,” jelas Yumi. Pria bertubuh kekar itu keluar dari mobilnya menghampiri Yumi dan ibu itu.
“Ini, pulanglah. Aku hanya punya segini. Semoga saja cukup untuk menggantikan uang Nyonya yang dijambret. Setidaknya Nyonya bisa pulang ke rumah dan kembali pada keluarga Nyonya,” kata Donghae seraya memberikan beberapa lembar uang yang jumlahnya tidak sedikit. Yumi sampai melongo melihatnya.
Tidak disangka, meskipun Donghae salah satu dari personil Geng Prince, tapi ia rupanya masih memiliki hati yang baik. Buktinya Donghae tidak segan-segan mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membantu ibu itu. Ibu itu juga tampak gembira meskipun air mata masih menetes di pipinya. Ia mengucapkan terima kasih pada Yumi dan Donghae.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Donghae sedikit ketus yang terlihat dipaksakan. Ia agak kesal mendapati Yumi terus-menerus melihatnya dengan tatapan yang aneh. “Aku baru tahu kalau Geng Prince ada yang baik juga,” seru Yumi terkekeh.
“Kau..., jangan sampai Kyuhyun apalagi Heechul mendengarnya,” pinta Donghae seraya mendekatkan wajahnya ke sebelah kepala Yumi. “Wae? Kau takut pada Heechul?” tanya Yumi seolah menyelidik. Tiba-tiba ia tertarik pada alasan Donghae melarangnya berbicara pada Heechul ataupun Kyuhyun tentang kebaikan yang sudah dilakukan pria berbadan macho itu.
Dwaesseo, jangan banyak tanya. Kau malam-malam begini mau kemana?” tanya Donghae kemudian. Entah apakah ia hanya berbasa-basi atau memang benar ingin tahu. “Tentu saja mau pulang! Aku baru pulang bekerja,” jawab Yumi.
“Naiklah ke mobilku!” ajak Donghae yang langsung berjalan menuju ke mobilnya tanpa menunggu jawaban Yumi. Dia benar-benar dingin. “Eoh?” Yumi bingung apakah ajakan Donghae itu sungguhan atau hanya basa-basi saja, tapi kaki Yumi tetap berjalan ke arah mobil Donghae. Baru beberapa langkah Yumi menghentikan kakinya. Ia takut kalau sampai Donghae berpikir dirinya memanfaatkan situasi untuk menumpang padanya.
“Ayo, masuk!” seru Donghae lagi yang kali ini sudah berada di depan kemudi mobilnya. Yumi mengangguk ragu. Tapi ia akhirnya menyusul Donghae dan duduk di jok sebelah Donghae. Sepanjang perjalanan Yumi banyak bercerita tentang dirinya pada Donghae, tapi Donghae hanya merespon sesekali saja. Ini membuat Yumi sedikit segan pada pria itu.
“Hei, kita ini sekelas, tapi kenapa kau begitu canggung padaku seolah-olah tidak mengenalku? Aku heran kenapa kau mau bergabung dengan Heechul, padahal menurutku kau tidak cocok dengan orang itu,” tanya Yumi panjang lebar saking tidak habis pikirnya kenapa Donghae bisa berteman dekat dengan orang seperti Kim Heechul. Rupanya Yumi masih terkesan dengan kebaikan Donghae pada ibu di halte tadi.
“Aku ingin memperingatkanmu agar berhati-hati dengan Heechul. Dia masih belum puas mengerjaimu,” jelas Donghae memberitahu Yumi sedangkan pandangannya tetap tertuju ke depan melihat jalanan di depannya. “Huh? Kenapa bisa sampai ada orang seperti itu, sih di dunia ini?” gerutu Yumi. Mendadak ia kembali merasa kesal karena teringat ulah Heechul yang mengerjainya saat di kampus.
“Kau harus tahu, dia merasa harga dirinya telah kau injak-injak di depan umum, makanya dia berencana pindah kelas agar lebih mudah mengerjaimu,” terang Donghae lagi. Entah kenapa Donghae membongkar rencana sahabatnya itu pada Si Korban.
Mworago? Maksudmu dia akan pindah ke kelas kita?” sahut Yumi terkejut sampai matanya terbelalak. Yumi merasa nyawanya sedikit terancam sekarang. Rupanya Heechul belum selesai dengan dendamnya. Yumi harus bersiap-siap untuk menghadapi apapun yang akan dilakukan oleh pangeran kampus itu pada dirinya.
“Eoh! Kau harus berhati-hati,” lagi-lagi Donghae memperingatkan Yumi. “Jamkkanmanyo! Kenapa kau mengatakan semua ini padaku? Bukankah kau temannya Heechul?” selidik Yumi yang mulai curiga pada Donghae. Yumi curiga kalau-kalau Donghae hanya berpura-pura baik padanya saat ini.
Donghae mengerling malas. Setelah menumpang di mobilnya, yeoja itu sekarang malah mencurigainya. “Bukankah kau sendiri yang bilang kalau aku dan Heechul tidak cocok?” timpal Donghae seraya fokus menyetir.
Sesampainya di depan kontrakan Yumi. Bangunan itu terlihat kecil dan sederhana, tetapi halamannya cukup untuk bisa menjemur pakaian. Benar-benar kontrakan Yumi ini berada di daerah yang bisa dibilang sedikit sepi dari keramaian dan sangat tidak strategis.
“Rumahmu kecil sekali,” komentar Donghae yang matanya tertuju keluar sana, tepatnya sebuah bangunan kecil tempat Yumi tinggal. “Aku hanya mengontrak disini. Masih untung aku memiliki tempat tinggal. Biarpun menurutmu rumahku itu kecil, tapi buatku itu sudah cukup,” jawab Yumi yang seperti sedang merenungi sesuatu.
“Tapi aku ingat dulu pernah mendengar kalau kau tinggal di sebuah apartmen bersama pacarmu. Apa kalian sudah putus makanya sekarang kau tinggal di tempat seperti ini?” sambung Donghae.
Yumi terkejut, “Ah! Itu... saat itu aku tinggal dengan temanku. Itu sudah lama sekali. Aku tidak menyangka kau mengetahuinya,” Yumi merasa sedikit gugup dan malu. Ternyata cerita soal ia pernah tinggal bersama dengan Yesung telah diketahui orang lain, bahkan Lee Donghae juga mengetahuinya.
Donghae mngernyitkan dahinya seraya menoleh pada Yumi, “Yang benar saja? Bukankah dia itu pacarmu?” Donghae tampak tidak percaya. Yumi menjadi gugup sekaligus salah tingkah, “Tadinya iya, tapi sekarang sudah menjadi pacar temanku,” Yumi terkekeh.
Ekspresi wajah Donghae dengan cepat berubah setelah mendengar jawaban Yumi, “Wae?” tanya Donghae terlihat serius. “Eoh? Panjang ceritanya. Dulu hanya dia yang aku kenal. Tapi ternyata sahabatku juga menyukai pacarku itu. Jadi, aku akhirnya memilih memutuskan hubungan dengannya demi sahabatku itu. Tidak lama setelah itu aku mendapatkan pekerjaan sambilan, lalu aku putuskan untuk keluar dari apartmen itu,” terang Yumi. Terlihat kalau Yumi memaksakan untuk tersenyum.
Kali ini Donghae melipat kedua tangannya diatas kemudi dan tampak menarik nafas karena merasa tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya, “Wah, kau jahat sekali. Kau mengorbankan perasaan pria yang mencintaimu,” komentar Donghae. Donghae menyalahkan Yumi. Ya, siapapun pasti akan menyalahkan Yumi karena telah menyakiti hati Yesung dengan meninggalkan pria tampan berkaca mata itu.
Mueosseulyo? Hh, geurae. Aku memang jahat, tapi aku juga melakukannya terpaksa, semua ini demi kebahagiaan sahabatku,” Yumi tampak merenung sejenak. Yumi merasa bersalah pada Yesung, tapi ia juga merasa alasannya meninggalkan Yesung sudah tepat, yaitu Aerin. Yumi menyeka matanya yang hampir saja mengeluarkan air mata, “Hh, ini sudah hampir larut. Terima kasih sudah mengantarku!” Yumi bersiap keluar dari mobil Donghae.

***

Yumi baru saja akan masuk ke dalam kontrakan kecilnya, tapi tiba-tiba terdengar suara langkah seseorang di belakang. Jantung Yumi berdegup cepat takut kalau-kalau seorang penjahat akan mencelakai dirinya.
“Ay...,” panggil suara itu. Suara seorang pria yang sudah tidak asing lagi di telinga Yumi. Suara seseorang yang dulu sering menyapa Yumi dengan lembut.
Yumi langsung menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang memanggilnya tadi. Alangkah terkejutnya ia karena ternyata pria yang tadi ia bicarakan dengan Donghae telah berada di hadapannya saat ini. Yumi mempersilahkan Yesung masuk.
Yesung memang masuk ke dalam, tapi ia terlihat tidak ingin duduk. “Maaf, malam-malam begini aku berkunjung ke rumahmu,” kata Yesung yang sikapnya terlihat sedikit dingin dibandingkan tadi siang saat ia mengantarkan Yumi ke kafe dengan Aerin, kekasih barunya.
“Ada apa, oppa?” tanya Yumi.
Bukannya menjawab, Yesung malah maju mendekati Yumi yang masih berdiri beberapa langkah di depannya. Ia lantas memeluk Yumi dengan tiba-tiba. Sikap Yesung yang tiba-tiba ini cukup mengejutkan Yumi. “Ay, kenapa kau lakukan ini padaku? Kenapa? Aku tidak bisa melupakanmu,” suara Yesung terdengar seperti orang menangis.
Yumi terdiam. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia bisa merasakan kesedihan Yesung saat ini, “Oppa, lepaskan aku!” pinta Yumi. Ia tidak tega melihat Yesung bersedih karena dirinya.
“Tidak mau! Aku tidak mau melepaskanmu lagi! Apa kau tahu aku tidak pernah mencintai Aerin?!” sahut Yesung membuat hati Yumi sakit. Sorot mata Yesung yang biasanya tajam menjadi sayu hingga menyiratkan kekecewaannya.
Dalam dada Yumi seakan bergemuruh. Ia memang menyesal telah menyakiti lelaki bermata tajam itu, “Aku mohon jangan seperti ini. Aku tidak ingin melihat luka oppa karena aku tidak tahu harus melakukan apa untuk mengobati oppa,” ucap Yumi yang juga mulai menitikkan air mata.
“Lalu kenapa kau melukaiku? Kau meninggalkanku itu artinya kau melukaiku! Dengar, Ay! Sejak awal aku hanya mencintaimu,” ucap Yesung yang terlihat begitu pilu. Kali ini Yesung sudah melepas pelukannya hingga ia bisa leluasa menatap ke dalam mata Yumi.
Yumi balas menatap ke dalam mata Yesung, “Aku terpaksa melakukannya demi Aerin,” ucap Yumi terdengar ragu-ragu.
“Bukankah awalnya kita sudah cukup bahagia sebelum kau akhirnya memintaku untuk mencintai Aerin? Apa kau tahu bagaimana perasaanku saat itu? Apa kau pernah peduli pada perasaanku?” timpal Yesung terdengar begitu menyakitkan hati Yumi.
Ya, Tuhan. Apa yang telah aku perbuat padanya? Aku tidak pernah menyangka dia begitu sakit karena perbuatanku. Aku begitu egois tidak memikirkan perasaannya, aku hanya memikirkan hati Aerin seorang, sahabat baruku. Padahal Yesung oppa adalah satu-satunya orang yang selalu ada untukku saat aku pertama kali menginjakkan kakiku di negara ini. Betapa aku tidak tahu terima kasih dan malah membuat keadaan menjadi sulit seperti ini. Maafkan aku, oppa. Tolong, jangan menunjukkan kesedihan dan lukamu padaku karena aku akan semakin merasa bersalah. Aku takut ini akan melemahkanku lagi. -Yumi-
“Maafkan aku, oppa. Maaf..., maaf...,” hanya itu yang bisa terucap dari bibir Yumi.
Yesung menggeleng sedih. Bulir bening menetes dari pelupuk matanya membuat hati Yumi semakin tersayat melihatnya. Yesung tiba-tiba saja meraih wajah Yumi dan memagut bibir Yumi perlahan-lahan. Entah kenapa Yumi tidak bisa menolaknya saat Yesung melakukannya. Mengetahui air mata Yumi terus mengalir dengan derasnya, Yesung pun mengakhiri aktivitasnya itu. Ia mencoba mengusap air mata gadis itu, “Maafkan aku. Aku juga tahu kau terluka. Tapi aku masih tidak bisa menerima Aerin menggantikan tempatmu,” ucap Yesung lirih.
“Jung Soo oppa. Aku sudah memiliki dia. Biar kita ambil jalan kita masing-masing, dan aku juga tidak akan melupakan dirimu dan kenangan yang sudah kita lalui,” ucap Yumi mencoba membuat kesepakatan dengan Yesung.
Yesung rupanya menggelengkan kepala. Ia menolak, “Kalau aku tidak bisa bersamamu, begitu juga dengan Aerin. Aku tidak bisa terus berada di sisinya,” ucap Yesung yang lantas pergi meninggalkan Yumi dalam kegundahan.
Gadis itu kini hanya bisa menatap punggung si pria bermata tajam yang semakin menjauh dan menghilang bersama dengan mobil yang dikendarainya.
Yumi kali ini telah berada di pembaringannya. Hati Yumi terasa tak menentu. Berkali-kali ia menghela nafas. Ia melamun memikirkan Yesung dan Aerin. Karena perbuatannya, ia malah melukai dua orang sekaligus. Apa yang Yesung katakan tadi sudah jelas kalau ia akan meninggalkan Aerin, dan itu pasti akan melukai hati Aerin. Secara tidak langsung itu adalah karena ulah Yumi juga.
Terdengar suara lagu No Other milik Super Junior mengalun. Ternyata ponsel Yumi mendapat panggilan dari Park Jung Soo.
“Yeoboseyo!” sapa Jung Soo.
“Yeoboseyo, oppa...,” jawab Yumi.
Mendengar Yumi menghela nafas beberapa kali membuat Jung Soo khawatir pada gadis itu, “Apa yang terjadi? Kenapa kau menghela nafas terus seperti itu?” tanya Jung Soo khawatir. Namja (pria) yang satu ini memang sangat mempedulikan keadaan Yumi, tak heran Yumi bisa langsung membukakan hatinya yang hampa karena kehilangan Yesung saat itu.
“Tidak ada. Aku merindukan oppa. Kapan oppa kembali?” kelak Yumi. Ia tidak ingin Jung Soo mengetahui masalah yang sedang menimpa dirinya saat ini, terlebih lagi soal Yesung. Yumi tidak ingin Jung Soo salah paham.
“Besok. Nanti aku jemput ke kampusmu, yah!” kata Jung Soo.
“Ne. Oppa?”
“Hum?”
“I love you,” ucap Yumi.
“I love you too,” jawab Jung Soo lalu menutup teleponnya.

***


Buat yang baca, minta komentarnya, ya! Jangan jadi pembaca bisu. hehehe =D
Cerita ini murni hasil kretifitas author yang juga sebagian diambil dari adegan di mimpi Author. Hihii! Maaf kalau ada alur yang rada gak jelas, typo, dan nama-nama yang gak disukain. Intinya.. niat Author cuma mau nyalurin hobi menulis plus menghibur orang-orang yang senang membaca fanfic =)
Gomawo chingu! =)

Ini link dari  part sebelumnya dan selanjutnya!


Fanfic Super Junior: Yeppeun Namja Part 1

Judul                     : Yeppeun Namja
Genre                   : Drama, Romantic
Author                  : Lee Ara
Cast                      : Ayumi (Yumi), Park Jung Soo (Leeteuk), Kim Heechul, Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Aerin, Yesung, Jessica


Namaku Ayumi. Teman-temanku biasa memanggilku Ay atau Yumi. Aku salah satu mahasiswi beruntung dari Indonesia yang berkuliah di Korea Selatan. Meskipun aku orang Indonesia, tapi aku memiliki wajah oriental dan berkulit putih. Itu sebabnya kadang tidak ada yang menyangka kalau aku berasal dari Indonesia. Sejak keluargaku di Indonesia meninggal, aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Maka dari itu aku memutuskan untuk menetap dan bekerja di Korea Selatan setelah aku lulus sekolah. Hari-hariku aku isi dengan kegiatan kuliah dan bekerja sambilan.
Beruntung aku di Korea Selatan ini memiliki kekasih yang baik hati. Kami tidak sengaja bertemu di tempatku bekerja sambilan. Ya, sebenarnya pacarku itu adalah pemilik kafe tempatku bekerja. Selama satu tahun lebih berpacaran dengannya, dia orang yang sangat pengertian. Dia bahkan selalu ada di sisiku saat aku bersedih karena kehilangan kedua orang tuaku dalam sebuah kecelakaan. Pokoknya aku sangat mencintainya, begitupun ia padaku. -Yumi-
“Yumi, apa kau melamun? Kau tidak lihat kalau di depanmu ada pelanggan?” kata Jung Soo membuyarkan lamunan Yumi. Park Jung Soo, pria berusia dua puluh tujuh tahun yang membuka usaha kafe keluarganya. Pria yang penuh pengertian dan sangat ramah tetapi juga tegas pada saatnya. Ia memiliki wajah yang tampan ditambah dengan lesung pipi yang dalam di sebelah pipi kirinya. Setiap pria tampan yang satu ini tersenyum bisa langsung memabukkan para gadis yang melihatnya. Hanya dengan melihatnya sekilas saja orang bisa tahu kalau Park Jung Soo adalah pria berhati malaikat dan penuh cinta.
“Eh, iya. Maaf, bos!” Yumi membungkuk meminta maaf pada bosnya dan kepada pelanggan yang sejak tadi berdiri di hadapannya. Pelanggan itu terlihat tidak sabaran, memang sudah beberapa menit dia berdiri disana menonton Yumi yang tidak kunjung melayani pesanannya.
Park Jung Soo memang adalah pacarku, tapi saat berada di kafe dia adalah atasanku. Dia selalu bersikap tegas pada semua bawahannya. Aku sama sekali tidak keberatan dengan sikapnya yang begitu. Aku memang sengaja memintanya agar tidak membeda-bedakan aku dengan pekerja yang lainnya. Aku tidak ingin orang-orang menganggapnya pilih kasih mentang-mentang aku adalah pacarnya. -Yumi-
Jam kerja sudah berakhir. Sekarang sudah pukul 12 malam. Yumi membenahi barang-barangnya untuk bergegas pulang ke kontrakannya. Suasana di kafe sudah semakin sepi. Pekerja yang lainnya sudah lebih dulu pulang dan sekarang tinggal Yumi saja bersama dengan Sang Pemilik Kafe, Park Jung Soo.
“Maafkan aku, ya!” tiba-tiba saja sepasang lengan melingkari pinggang kecil Yumi. Yeoja itu menoleh ke belakang mencari si pemilik sepasang lengan itu. Dilihatnya pria berwajah tampan itu tengah tersenyum memamerkan lesung pipinya yang membuatnya semakin terlihat manis. Ketika Jung Soo tersenyum tampak sepasang matanya seperti ikut tersenyum. Ia benar-benar tampan. “Gwaenchanha, oppa. Arasseo. Seharusnya aku yang minta maaf. Tadi aku tidak bisa konsentrasi,” kata Yumi.
“Huh? Waeyo? Memangnya kau memikirkan apa?” Jung Soo memutar posisi Yumi hingga menghadap dirinya. Kali ini ia benar-benar bisa dengan jelas melihat wajah gadisnya itu. Dipandanginya wajah itu lekat-lekat dengan perasaan khawatir.
“Aku merindukan orang tuaku,” ucap Yumi sendu. Matanya terlihat sedikit sayu dan berkaca-kaca. Gadis ini benar-benar merindukan orang tuanya. Ia hanya tinggal seorang diri terlebih di negara yang asing baginya ini, tidak ada satupun kerabat yang dikenalnya.

“Jagiya, aku mengerti kesedihanmu itu. Tapi kau masih memiliki aku. Biarkan kedua orang tuamu tenang disana, ya?” ujar Jung Soo mencoba menghibur hati Yumi yang sedang galau. Ia tidak ingin gadis mungilnya itu bersedih lagi. Jung Soo adalah tipe orang yang akan melakukan apapun untuk menyenangkan hati orang yang disayanginya, sama seperti yang dilakukan oleh Yumi dulu pada sahabatnya, Aerin.
Yumi mengangguk lemah. Ia melanjutkan lagi aktivitasnya yang sempat tertunda, membereskan isi tasnya. “Mau sampai kapan kau tinggal di kontrakan kecil itu?” tanya Jung Soo kemudian. Ia menghampiri gadis itu seraya melihatnya merapikan barang bawaannya. Sesekali Jung Soo ikut membantunya memasukan benada-benda kecil ke dalam tas gadis itu.
Dwaesseo, jangan mulai lagi untuk memaksaku tinggal bersama oppa. Aku tidak mau orang-orang mempergunjingkan kita tinggal satu atap. Kita, kan belum menikah,” timpal Yumi. Ia sudah hampir selesai dengan tasnya.
“Kalau begitu kita menikah saja!” sambung Jung Soo. Yumi mendadak terdiam. Menikah dengan Jung Soo memang adalah harapan Yumi selama ini, tapi ia merasa usianya masih terlalu muda untuk menikah, apalagi ia sekarang masih kuliah. “Oppa, aku belum siap. Usiaku baru dua puluh tahun dan aku ingin menyelesaikan kuliahku dulu,” ujar Yumi seraya membelai lembut pipi Jung Soo dengan kedua tangannya. Gadis itu mencoba memberikan pengertian pada kekasihnya.
Jung Soo langsung menangkap tangan halus Yumi, “Baiklah. Kau harus berjanji padaku, setelah kau lulus nanti kita akan menikah!” tantang Jung Soo bersemangat. Ia tersenyum menunggu jawaban Yumi. “Iya, aku janji!” jawab Yumi lantang.

***

 Di kampus.
“Berani-beraninya kau menabrakku, huh! Kau mau cari mati?!” bentak seorang pria berwajah cantik. Seketika itu juga insiden kecil itu membuat riuh suasana di kampus itu. Seorang mahasiswa kelas bawah tidak sengaja menyenggol lengan pria cantik bernama Kim Heechul. Keluarga Kim Heechul adalah penyandang dana terbesar di kampus ini, tidak heran kalau sikapnya sampai begitu angkuh. Masalah kecil saja sampai ia besar-besarkan.
Di sisi lain, Kim Heechul adalah anak pengusaha brand fashion ternama di Korea Selatan bahkan ketenarannya sampai ke Inggris, tetapi brand mereka sekarang lebih berpusat di Inggris. Kedua orang tua Heechul dan juga kakaknya tinggal di London, Inggris untuk mengurusi perusahaan mereka. Heechul memiliki seorang kakak perempuan bernama Kim Heejin.
“Hei, bukankah dia sudah meminta maaf padamu?” Yumi tiba-tiba saja maju mencoba menjadi pahlawan dadakan. Semua mata menjadi tertuju padanya. Aerin, sahabat Yumi mencoba menahan Yumi dengan menarik lengan Yumi, tapi memang dasar gadis itu saja yang keras kepala. Ia tetap maju untuk menolong pria tertindas yang bahkan tidak dikenalnya itu.
“Hei, siapa kau berani bicara seperti itu pada Heechul kami?” timpal salah seorang sahabat Heechul, Cho Kyuhyun. Cho Kyuhyun adalah pria berkulit putih dan juga tampan, merupakan salah satu dari tiga keluarga terpandang yang sangat berperan sebagai penyumbang dana di kampusnya. Kyuhyun sangat ingin menjadi seorang penyanyi terkenal dan ia juga memang memiliki suara yang indah. Kyuhyun memiliki adik perempuan yang kuliah Jurusan Fashion di Paris. Orang tua Kyuhyun juga tinggal di Paris.
Sikkeureo!” bentak Heechul. Heechul memiliki sifat mudah marah dan mudah tersinggung terlebih lagi dengan sindrom pangeran yang dimilikinya. Ia selalu merasa dirinya sempurna dan tidak memiliki cela.
“Hei, kenapa kau malah memarahi Kyuhyun? Dia, kan membelamu!” sahut Lee Donghae yang merupakan salah satu sahabat Heechul juga. Keluarga Lee Donghae juga termasuk penyandang dana terbesar di kampus ini. Lee Donghae adalah putra tunggal dari pemilik hotel ternama di Jepang. Karena ayahnya yang sakit-sakitan mengharuskan Donghae bulak-balik Korea - Jepang untuk menemani sang ayah berobat. Wajahnya yang tampan dan tubuh yang kekar membuat dirinya tampak sempurna di mata para gadis. Tapi sosok Lee Donghae sedikit lebih dingin dari pada kedua sahabatnya, Heechul dan Kyuhyun.
Lagi-lagi Heechul memberi kode pada Donghae dan Kyuhyun agar mereka diam, “Siapa, kau? Pendatang? Apa kau tidak tahu siapa aku?” kata Heechul kepada Yumi. Heechul berjalan mendekati gadis itu dengan gaya pangerannya dan diikuti oleh Kyuhyun dan Donghae di belakangnya.
Yumi tampak tak bergeming, “Apa peduliku? Bagiku kau tidak lebih dari seorang anak orang kaya yang sombong dan angkuh,” timpal Yumi. Ia berusaha menunjukkan kekuatannya pada bocah-bocah pengidap sindrom pangeran itu.
Mendengar kata-kata Yumi yang sangat berani itu membuat semua orang bergidik ngeri terlebih lagi Heechul menghela nafas panjang, itu artinya ia sangat marah pada gadis itu. “Apa kau haus?” tanya Heechul tiba-tiba pada Yumi yang malah membuat semua orang terbengong-bengong mendengarnya.
“Huh?” respon Yumi yang juga terperangah mendengar ucapan Heechul.
“Sejak tadi kau bicara terus, pasti sekarang kau haus,” Heechul mengambil sebotol air dari tangan Kyuhyun, membuka tutupnya dan menyodorkannya pada Yumi. Yumi meskipun tidak mengerti tapi ia akhirnya menggerakan tangannya untuk menerima botol itu. Naas, Heechul langsung mengangkat botol berisi air itu dan menumpahkannya tepat di atas kepala gadis Indonesia itu. Saat itu juga trio Prince itu tertawa terbahak-bahak menertawakan penderitaan Yumi yang sudah sangat malu diperlakukan semena-mena oleh Heechul di depan orang banyak dan ia juga hampir menangis.
“Itu akibatnya kalau berani melawan Prince Heechul,” sahut Heechul. Ia lantas meninggalkan Yumi disusul oleh dua sahabatnya itu, Kyuhyun dan Donghae. Heechul diam-diam mengumpat Yumi sebelum ia benar-benar pergi dari lokasi itu.
Satu per satu orang-orang yang berkerumun juga meninggalkan tempat kejadian itu, termasuk orang yang tadi dibela oleh Yumi, dia pergi tanpa mengucapkan terima kasih atau apapun pada gadis itu.
“Orang itu! HhhrrgghH!!!” Yumi dibuat murka oleh Prince Gank itu. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Rahang gadis itu bergetar menahan emosi yang membuncah.
“Kau tidak apa-apa? Bajumu basah,” kata Aerin yang notabene adalah sahabat Yumi. Aerin menyentuh pakaian Yumi yang benar-benar telah basah sehabis disiram air oleh pria yang mengaku pangeran tadi.
“Kau lihat, kan bagaimana menyebalkannya mereka tadi?” sahut Yumi yang benar-benar emosi. “Salahmu sendiri kenapa ikut campur urusan orang lain? Lihat! Orang yang kau bela itu bahkan pergi begitu saja,” timpal Aerin yang malah memojokkan Yumi.
“Aish! Benar-benar tidak tahu terima kasih! Aku sudah sampai seperti ini, dia malah pergi begitu saja!” gerutu Yumi semakin bertambah kesal. Di pikiran Yumi, ternyata disini cukup sulit untuk menemukan teman yang tahu caranya berterima kasih.
Geumanhae, jibe kaja! Yesung menjemputku hari ini, kau bisa menumpang sampai ke kafe, dari pada harus naik bis!” kata Aerin seraya menarik lengan Yumi untuk pergi.

***

Di lain tempat. Di sebuah tempat yang penuh dengan ilalang, terparkir tiga buah mobil mewah berwarna gelap. Beberapa pria dengan setelan mahal berkumpul di dekat mobil mewah itu. Mereka adalah Heechul, Donghae dan Kyuhyun. Tiga pria itu kemana-mana mereka selalu bersama. Mereka dijuluki Pangeran Kampus. Mereka sendiri menamakan diri mereka dengan Prince Gank.
“Apa yang kau lakukan tadi pada gadis itu menurutku sedikit keterlaluan,” komentar Donghae yang sejak tadi ditahannya. Meskipun terlihat dingin, tapi Donghae memiliki hati yang sedikit lebih lembut dibandingkan dengan kedua sahabatnya itu.
“Cih! Siapapun yang berani bermain-main dengan Kim Heechul pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal,” timpal Heechul. Entah apa yang membuat pria ini sampai bisa memiliki sifat seburuk itu. Tapi kali ini ia merasa harga dirinya sedikit tercoreng oleh perlawanan gadis imigran itu.
“Ya, kau seperti tidak mengenal Heenim kita saja, Donghae!” timpal Kyuhyun seraya mengeluarkan seringaian antagonisnya. Heenim adalah sapaan akrab mereka pada Heechul.
“Kalian tahu siapa perempuan itu?” tanya Heechul tiba-tiba. Rupanya pangeran sombong ini memiliki sedikit ketertarikan untuk mengetahui pribadi korban bully-annya hari ini. “Kenapa kau ingin tahu tentang dia?” tanya Donghae heran. “Kau pikir kenapa? Seorang Heechul tidak akan melepaskan mangsanya begitu saja!” seru Heechul.
“Dari yang aku tahu... dia WNA dari Indonesia. Dia bisa kuliah di kampus kita karena mendapatkan bea siswa. Setahuku dia memang sangat pandai di kelasnya. Iya, kan Donghae?” kata Kyuhyun menjelaskan.
“Iya. IPK-nya selalu cumlaude,” tambah Donghae. “Jinjja? Dari mana kau tahu?” tanya Heechul heran. Kali ini ia menoleh pada dua sahabatnya itu. Heechul penasaran dari mana sahabat-sahabatnya itu bisa mengetahui riwayat gadis itu.
“Tentu saja dia tahu! Mereka, kan satu kelas,” timpal Kyuhyun menjawab rasa penasaran Kim Heechul. “Jadi begitu?” Heechul menyeringai licik.

***


Buat yang baca, minta komentarnya, ya! Jangan jadi pembaca bisu. hehehe =D
Cerita ini murni hasil kretifitas author yang juga sebagian diambil dari adegan di mimpi Author. Hihii! Maaf kalau ada alur yang rada gak jelas, typo, dan nama-nama yang gak disukain. Intinya.. niat Author cuma mau nyalurin hobi menulis plus menghibur orang-orang yang senang membaca fanfic =)
Gomawo chingu! =)

Ini link cerita dari semua part!

Template by:

Free Blog Templates